Pantaskah Diving Disebut Perilaku Curang Dalam Sepakbola?

oleh -40 views
Pantaskah Diving Disebut Perilaku Curang Dalam Sepakbola?
Pantaskah Diving Disebut Perilaku Curang Dalam Sepakbola?

Bola News – Pantaskah Diving Disebut Perilaku Curang Dalam Sepakbola? Kata diving sering sekali dianggap sebagai kegiatan menyelam di dalam air. Namun kata diving juga sering disebut-sebut dalam sepakbola. Apakah arti diving dalam sepakbola memiliki arti yang serupa dengan kegiatan menyelam? Nah, disini admin akan memaparkan arti Diving dalam sepakbola, berikut penjelasannya.

Di sepakbola, diving adalah perbuatan mengecoh wasit dengan cara menjatuhkan diri sendiri secara sengaja saat ada atau tidak ada kontak dari pemain lawan. Kegiatan berkedok mengelabui ini pernah populer pada pada final Piala Dunia 1990 saat Jerman berhadapan dengan Argentina yang dilakukan oleh Juergen Klinsmann.

Agen Bola Terpercaya

Belakangan, julukan Raja Diving mulai akrab pada Neymar Jr. Publik tampaknya masih mengingat jelas bagaimana aksi teatrikal penyerang Paris Saint-Germain (PSG) itu pada Piala Dunia 2018 silam. Aksi teatrikalnya sukses mengantarkan Brasil ke babak perempat final. Sebegitu populernya, warganet berinisiatif membuat perlombaan dengan sebutan Neymar Challenge.

Walau banyak yang membenci aksi Diving, pada nyatanya sepakbola tak bisa lepas dari aksi tersebut. FIFA yang secara tegas memberikan ganjaran kartu kuning kepada pelaku diving pun tak membuat diving punah dari sepakbola. Pasalnya diving menjadi perilaku tak mencerminkan sportivitas dalam olahraga yang menjunjung tinggi Fair Play.

Lalu Pantaskah Diving Disebut Perilaku Curang Dalam Sepakbola? Diving diyakini memiliki tujuan untuk membuat wasit percaya atas tindakan yang dilakukannya. Diving bukan tak mungkin termasuk dalam kategori taktik dan strategi pelatih saat timnya kesulitan untuk membuat gol atau ada pemain yang mendapat pengalawan yang terlalu ekstra dari pemain lawan. Sehingga dalam situasi genting, demi kebaikan dan kemenangan tim, pelatih boleh jadi mendukung seorang pemain untuk melakukan diving.

Tujuan bermain sepakbola adalah meraih kemenangan. Untuk mencapai sebuah kemenangan tak jarang orang melakukan perbuatan curang. Bahkan dalam level kecurangan tertinggi, membayar wasit atau membayar lawan alias pengaturan skor pun bisa dilakukan oleh sebuah kesebelasan. Diving boleh jadi merupakan sebuah cara curang yang lebih elegan.

Dalam mengejar kemenangan, tentu pemain harus mengambil keputusan secepat mungkin. Siasat tersebut sangat mungkin lebih efektif. Arjen Robben, misalnya, yang ketika menghadapi Meksiko pada Piala Dunia 2014 berkali-kali melakukan diving untuk mendapatkan gol. Usai laga, pemain Belanda tersebut mengakui bahwa dia memang diving untuk meloloskan timnya ke babak perempat final.

Pada 2011 yang lalu pernah dihebohkan oleh temuan alat pendeteksi diving yang dibuat oleh seseorang ilmuwan Inggris bernama Andy Shaw. Alat ini diletakkan di antara tumit dan mata kaki pemain yang memiliki sensor untuk mendeteksi benturan kaki antara pemain. Namun pihak FIFA tak merespons penggunaan alat diving ini.

Kini sepakbola sendiri mulai mengenal Video Assistant Referee (VAR) sebagai alat bantu wasit dalam mengambil keputusan, termasuk untuk melihat aksi-aksi yang hanya bisa dilihat dari kamera dan tayangan ulang. Meski meminimalisasi kans seorang pemain melakukan diving, teknologi tersebut tampaknya belum ampuh untuk mengusir diving dari sepakbola.

#

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.